Tuesday, May 4, 2010

Sang Raja Jin – Novel tentang Cinta, Doa, dan Impian


Review Buku


Judul : Sang Raja Jin – Novel tentang Cinta, Doa, dan Impian
Pengarang : Irving Karchmar
Penerbit : Kayla Pustaka, Cetakan III, Januari 2009
Tebal : 297 halaman



“Hatiku telah mampu menerima segala macam bentuk.
Hatiku adalah padang bagi rusa, biara bagi para rahib,
Kuil bagi penyembah berhala, Ka’bah bagi para peziarah,
Dan altar bagi Taurat dan Al Qur’an.
Kuikuti agama Cinta; kemana saja unta Cinta membawaku,
Itulah agama dan imanku.”

- Tarjumanul Ashwaq (Penerjemah Kerinduan), Syaikhul Akbar Ibnu Arabi –



Buku ini berkisah tentang perjalanan Ishaq, seorang murid dari sebuah Tarekat Sufi (arab: thariqoh, ordo mistis dalam Islam) yang berbasis di Yerusalem. Syekh (Guru) dari Tarekat Sufi dalam cerita ini bernama Syaikh Amir al Haadi, seseorang yang dipercaya sebagai Wali Quthb (pimpinan para wali/orang suci) pada zamannya. Ditulis dari sudut pandang kesatu (Ishaq), pengarang buku ini – Irving – seorang sastrawan berkebangsaan Yahudi yang menjalani ordo mistis/tarekat sufiyah Ni’matullahi dibawah bimbingan Dr Javad Nurbaksh – membawa kita ke dalam sebuah kisah indah yang ditulis bagaikan cerita 1001 malam; dimana ia melibatkan legenda Nabi Sulaiman, Sang Raja Jin, dan seorang faqir sakti yang menguasai ilmu Nabi Khidr.

Kisah ini dimulai di Yerusalem, dalam sebuah perjamuan makan di khaniqah (zawiyah, atau markas, atau madrasah) tarekat ini, ketika Sang Syekh menerima tiga orang tamunya yang bernama Profesor Solomon Freeman (Direktur Departemen Peninggalan Purbakala di Universitas Yerusalem), Rebecca (putri sang profesor), dan Aaron Simach (seorang Kapten dalam kesatuan Tentara Israel). Ketiga tamu istimewa ini ternyata membawa suatu artifak berusia ribuan tahun yang dikenal dalam pelbagai ajaran agama dan legenda mengenai Nabi Sulaiman; sebuah lembaran papirus kuno yang memberi petunjuk mengenai keberadaan sebentuk cincin berlian yang dikenal juga dengan Bintang Daud, Cincin Sulaiman – konon mengandung kekuatan/kesaktian luar biasa dari Sang Nabi – yang tersimpan dalam sebuah silinder gading; ditemukan secara tidak sengaja oleh Kapten Aaron dalam sebuah gua tersembunyi di padang pasir.

“Kebenaran tidak bisa ditemukan dalam buku-buku. Kau harus mencari jawabannya di tempat yang sama ketika engkau menemukan pertanyaannya.” (h.95)

Berbekal misteri yang baru saja terungkap kembali setelah ribuan tahun tersembunyi ini, Syekh Amir meminta Prof. Solomon, Rebecca, Kapt. Simach, berserta ketiga murid beliau : Ali, Rami, dan Ishaq – sebagai juru tulis – tidak membuang-buang waktu lagi untuk berangkat ke padang pasir guna membongkar rahasia dibalik penemuan artifak ini, dan menemukan Cincin Sulaiman. Namun sebelum rombongan ini memulai perjalanan, bergabunglah seorang faqir yang memiliki peran kunci dalam kisah ini, yaitu seorang darwis pengembara miskin (Sufi Qalandar) bernama Jasus al Qulub (Mata-mata Hati), yang akan “menuntun” mereka dalam perjalanan.

Setelah beberapa kejadian di khaniqah dan sebuah kejadian dramatis yang melibatkan Kapten Simach, ketujuh orang ini berangkat menuju gurun pasir guna mengungkap rahasia dibalik Cincin Sulaiman. Mereka mencari sebuah “jalan badai” – jalan rahasia yang membuka dirinya hanya pada saat tertentu, pada tempat tertentu, dimana ketika ia membuka dirinya, waktu pun terhenti, dan sebuah jalan menuju dimensi lain terbuka – dimensi rahasia alam Jin.

“Aku mohon kekuasaan; kutemukan dalam pengetahuan.
Aku mohon kehormatan; kutemukan dalam kemiskinan.
Aku mohon kesehatan, kutemukan dalam kesederhanaan.
Aku mohon beban diringankan; kutemukan dalam diam.
Aku mohon hiburan, kutemukan dalam keputusasaan.”
(Ali Sahl Esfahani, h.147)

Syahdan, kapal laut yang mereka tumpangi tiba di Aljazair, kemudian mereka mengambil rute darat ke arah Gunung Atlas, melintasi rute ke utara melalui Gurun Sahara. Berbekal intuisi Kapten Simach – atau, lebih tepatnya – Ruh Sang Raja yang telah menyapu jiwa sang Kapten – mereka dapat menemukan “jalan” itu terbentang di tengah-tengah mata badai gurun Sahara. Jalan itu memancing keingintahuan mereka untuk membuka sebuah sumur yang ditutup oleh segel Bintang Daud – dan sumur itu membangkitkan sesuatu yang jahat, yang seharusnya terkubur ribuan tahun lalu namun ternyata masih hidup hingga saat ini, sesuatu yang mengerikan dan terbuat dari api, bernama : Baalzeboul, si Raja Jin.

Berbekal takbir, “Allahu Akbar!”, dua bersaudara – Ali dan Rami – mengorbankan tubuh mereka dengan jalan menceburkan diri ke dalam sumur api guna menghalau si Raja Jin. Sang faqir, marah karena kecerobohan orang-orang yang dibimbingnya, turut menceburkan diri ke dalam sumur api – hingga wujud aslinya terungkap – sambil meminta kepada Ishaq untuk lari kembali kepada Syekh karena sekarang hanya Syekh yang bisa membantu. Tersesat di gurun dalam keadaan antara hidup dan mati, antara lupa dan ingat, akhirnya Ishaq diselamatkan oleh orang-orang Tuareg dan akhirnya bertemu dengan sang Guru. Sementara itu, Prof. Solomon, Rebecca, dan Kapt. Simach, “tertidur” dalam “malam abadi” karena subuh hanya datang untuk Ishaq yang dapat melarikan diri sebelum terlambat.

“Seorang Qutb adalah kutub atau poros dua dunia: dunia manusia dan jin.” (h.207)

Syekh, Ishaq, dan Amenukal (kepala suku Tuareq) berangkat untuk sebuah misi penyelamatan bagi Ali dan Rami yang telah tersesat di dunia Jin, dunia Iblis Baalzeboul. Kembali ke tempat semula, mereka menemukan ketiga orang yang tertidur dalam “malam abadi”. Ternyata, bagi ketiga orang ini – Prof Solomon, Rebecca, dan Kapt Simach – “malam” baru berlalu beberapa jam – namun waktu yang sesungguhnya bergulir bagi Ishaq dan dunia pada umumnya telah berlalu selama sebulan!

Atas berkah karomah (kesaktian atau keistimewaan kekuatan ajaib dari orang suci) dari Sang Syekh, sumur yang semula menyemburkan api sekarang menjadi terisi air dan menjadi “jalan” bagi rombongan untuk memasuki dunia Jin.

“Allahu Akbar!” kata Syekh. “Tanpa Allah, air kehidupan adalah api.” (h.225)

Berbekal kalimat itu, maka mereka berenam, berpegangan tangan, melangkah masuk ke dalam sumur, dan “terbang” atau terjun bebas ke kedalamannya – ke dalam dunia Jin. Tersadar setelah jatuh bebas ke dalam sumur, mereka terbangun untuk melihat sebuah kengerian lain yang sulit dinalar oleh manusia : gunung-gunung kegelapan berwarna hitam yang lubang-lubangnya menyemburkan api, yang secara misterius membentuk pola-pola geometris tertentu diluar batas pandang mata manusia. Itulah Jinnistan, atau “Kerajaan Jin”, sebuah kota atau tempat yang konon dibangun atas perintah Nabi Sulaiman, yang terletak persis dibawah reruntuhan Tadmor, kota hilang yang disebut “Kota Sihir”, yang pada zaman dahulu diperintah oleh Ratu Sheba. Mereka disambut oleh sang faqir disini, yang kemudian memandu mereka ke istana Nabi Sulaiman, yang disebut Iahar-Halibanon, Hutan Lebanon.

“Awan perpisahan telah dibersihkan, dari rembulan cinta yang menawan.
Dan cahaya pagi telah bersinar, dari gelap Kegaiban.”(h.237)

Itulah nyanyian sama’ yang sedang dilantunkan oleh Rami, diiringi tiupan ney (seruling Turki) dari Ali, ketika rombongan itu bertemu dalam Istana Hutan Lebanon. Namun bukan hanya Ali dan Rami yang ada disana – di singgasana hitam, duduk sesosok makhluk yang amat tinggi dengan wajah menyeramkan – Baalzeboul, Raja para Jin.

“Ketahuilah – buah penyesalan telah masak jika rantingnya telah menunduk.” (h.242)

Quthb telah datang untuk menjawab kerinduan dari Raja. Terisolasi selama ribuan tahun, mereka – bangsa Jin – merindukan kehadiran seorang pemandu setelah Sulaiman meninggalkan mereka – pemandu yang akan membawa mereka kembali ke hadirat Tuhan, Sang Mentari Abadi yang tak pernah tenggelam. Syekh, Baalzeboul, Amenukal, dan Kapten Simach pergi ke Majelis Agung Jin untuk menjawab panggilan mereka, sementara sisa rombongan, ditemani oleh sang faqir, tinggal di Istana Sulaiman. Mengetahui kegelisahan mereka yang ditinggalkan, sang faqir, dengan kemampuannya, “menyambungkan” indera mereka dengan inderanya sendiri, sehingga mereka dapat “melihat” apa yang terjadi dalam Majelis Agung Jin.

Syahdan, para jin dalam pelbagai bentuk (yang mengerikan), rupa, dan warna api, berkumpul untuk mendengarkan pesan dari Sang Quthb. Syekh, sang Wali Qutb, berbicara dan memimpin golongan Jin untuk bersembah sujud kepada Tuhan – namun terjadi penentangan dari Ifrit! Ifrit beserta sebagian golongan Jin menentang kehendak sang Raja – dan pertempuran terjadi. Setelah pertempuran yang dimenangkan oleh Baalzeboul berakhir, Syekh memperkenalkan Amenukal – yang ternyata adalah seorang Wali (orang suci) yang memiliki level Naqib (satu level dibawah Quthb) untuk membawa cahaya harapan Ilahi bagi penduduk Jinnistan, dan menjadikan Istana Sulaiman yang kedua (Hutan Lebanon) menjadi “khaniqah Jinnistan”.

“dan tulislah bahwa beribadah kepada Tuhan berarti juga melayani semua makhlukNya, dan Jalan Cinta adalah harapan bagi manusia dan jin.” (h.262)

“Cinta menutup semua dosa.” (h.263)

Kisah ini ditutup dengan sebuah epilog yang menceritakan kondisi Ishaq, dan khaniqah sang Syekh di Yerusalem, sepulangnya mereka dari perjalanan di alam jin. Ternyata sang faqir – yang tinggal di Jinnistan sekarang – telah menyiapkan hadiah “rahasia” bagi masing-masing anggota rombongan.

“Tubuh sujud dalam shalat, dan jiwa meraih cinta, ruh sampai ke kedekatan dengan Tuhan, sedangkan hati mendapatkan kedamaian dalam persatuan dengan Allah.” (h.284)

Buku ini terpilih sebagai bacaan wajib di Oregon University USA dan telah diterjemahkan ke dalam 8 bahasa. Ditulis oleh seorang sastrawan Yahudi yang juga seorang murid dari Ordo/Tarekat Ni’matullahi, buku ini berisi kumpulan tradisi (adab) ordo mistisisme dalam Islam yang mencerminkan praktek keseharian dalam khaniqah; tatacara makan, sopan santun dalam berhadapan dengan Guru, tatacara bay’at (inisiasi Ordo), dan juga sedikit mengenai praktek dzikir dan sama’ dalam tarekat. Untaian kisahnya mengalir, enak untuk dinikmati, dan berisi kutipan-kutipan bermanfaat yang disarikan dari pelbagai kitab dalam tradisi sufi Islam. Saya pribadi merekomendasikan buku ini baik sebagai hiburan, bahan renungan, ataupun…untuk mencari sesuatu yang lain dan menggugah kembali pengalaman batin bagi setiap manusia yang merindukan Tuhan, terlepas dari apapun agama atau kepercayaan mereka. Highly recommended and praised.


AB/Bandung, 05Mei2010, 02.35

No comments:

Post a Comment