Sunday, May 2, 2010

Mr China, Kisah Dramatis tentang Kejatuhan Jutawan Wall Street di Negeri Tirai Bambu


Review Buku


Judul : Mr China, Kisah Dramatis tentang Kejatuhan Jutawan Wall Street di
Negeri Tirai Bambu
Pengarang : Tim Clissold
Penerbit : Alvabet, Cetakan I, September 2007
Tebal : 350 halaman + xiii



“Tiga tukang sepatu berbau busuk bisa mengalahkan Zhuge Liang (sang Guru)”
(kutipan terkenal dari Mao Zedong di era 50’an)



China. Sebuah negara besar dengan lebih dari 1,5 miliar penduduknya yang memiliki beban warisan sejarah 5000 tahun. Napoleon Bonaparte berkata, “di Cina tertidur seekor Naga raksasa – biarkan ia tertidur, sebab jika ia terbangun, ia akan mengguncang dunia!”


Buku ini bercerita mengenai pengalaman pribadi, sebuah kisah nyata dari penulisnya (Tim Clissold) dalam usahanya membantu seorang investor kakap dari Wall Street bernama “Pat” untuk ‘menaklukkan China’ selepas era keterbukaan investasi yang dicanangkan oleh Deng Xiaoping melalui tour selatannya yang terkenal, dimana Deng membuka daerah pesisir bagi pembukaan komplek mega-industri yang disimbolkan oleh penanaman sebuah pohon seraya berkata, “menjadi kaya itu mulia!”.


Tim, seorang ras Kaukasia warganegara Inggris yang memiliki ketertarikan khusus kepada negara Cina serta budayanya, meninggalkan pekerjaannya yang mapan dan bergaji tinggi di Biro Arthur Andersen London untuk menjadi mahasiswa miskin di Cina Komunis, mempelajari bahasa dan budaya Cina secara langsung, menyambung hidup sehari-hari dengan nasi dan sayur kubis, dan menggigil kedinginan di musim dingin karena Pemerintah Cina tidak menyediakan pemanas ruangan di asrama mahasiswanya pada saat itu. Namun ia lebih beruntung – mahasiswa Cina yang lain terpaksa berbagi ruangan yang ia tempati seorang diri dengan 5 hingga 7 mahasiswa lainnya – pada saat itu, sekitar tahun 1988.


Di tengah masalah finansial yang melanda Tim sehingga ia terpaksa bekerja paruh waktu semasa kuliah di Cina, pertolongan datang. Sebuah perusahaan finansial besar dari Amerika mencari penutur bahasa Mandarin untuk membantu dalam ekspansi usaha (investasi) ke Cina daratan – dan ternyata perusahaan itu adalah perusahaan lama Tim, yaitu Arthur Andersen!


Dari sini kita memulai sebuah petualangan yang sarat tantangan ibarat perjalanan roller coaster – menegangkan, menyenangkan, mengharukan, dan terkadang mengerikan – serta menguras darah dan air mata (secara nyata) – hingga pada titik baliknya, dimana seorang Tim yang sehat dan kuat secara jasmani di usia 38 tahun menderita serangan jantung dadakan ibarat “dihimpit dengan beban gunung Taishan” dalam menjalani perannya sebagai seorang eksekutif finansial yang membantu “penaklukan China”.


Di atas kertas, Cina adalah sebuah negara dengan pasar yang amat menjanjikan (penduduknya berjumlah lebih dari 1,5 milyar) dan dengan keterbukaan investasi yang dicanangkan oleh Deng Xiaoping, Cina menarik minat banyak orang dari pelbagai penjuru dunia yang memiliki uang untuk diinvestasikan guna membuka “usaha bersama” dengan Pemerintah Cina. Cina memiliki pasar, lahan yang amat luas, sumber buruh dan tenaga kerja yang murah dan amat sangat banyak, namun tanpa uang untuk diinvestasikan, serta kemampuan manajemen modern untuk mengelolanya, Cina tidak mungkin bergerak maju. Di sinilah masuk seorang “Pat”, ahli finansial terkenal dari Amerika yang sanggup menggalang dana investasi sebesar kurang lebih 400 juta US dollar untuk memanfaatkan “celah manajemen” ini dengan harapan menguasai industri Cina dan tentunya menarik manfaat (keuntungan) sebesar-besarnya dari kondisi ini.


Namun ada hal yang Pat (dan Dewan Komisaris Wall Street, serta orang-orang ras Kaukasia pada umumnya) lupakan; Cina bukanlah Amerika, dan Asia bukanlah Eropa. Lupakan Excel, lupakan Spreadsheet, lupakan angka-angka, lupakan pelajaran manajemen bisnis modern yang lazim dipraktekkan di negara-negara maju; Cina adalah negara dengan sistem komunis dimana keterbukaan manajemen menjadi sebuah masalah dan persaingan bebas adalah sesuatu yang amat sangat asing bagi rakyat Cina dan pemerintahnya (pada saat itu). Penunjukan Direktur bukan melulu berdasarkan kompetensi atau keahlian melainkan juga dipengaruhi oleh koneksi serta penunjukan dari Partai Komunis. Pemecatan tim manajemen, atau karyawan, yang dianggap tidak kompeten bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan secara baik-baik seperti perusahaan modern pada umumnya; tidak jarang, hal ini bisa mengakibatkan kerusuhan serta “pertempuran” yang menguras darah serta air mata dan diselesaikan dengan kehadiran tentara di pabrik pada akhirnya. Kontrak kerja bukanlah sesuatu yang mengikat, melainkan lebih sebagai suatu ‘acuan’ yang dapat (dan perlu, atau selalu) dinegosiasikan kembali di tengah perjalanan bisnis. Bisnis adalah perang; dan peperangan adalah “seni manipulasi” (atau dapat dikatakan pula sebagai “seni tipu menipu”).


Tim, sebagai seorang ‘middle manager’ yang memiliki ketrampilan berbahasa Cina serta memahami kondisi riil di lapangan, terjepit di tengah-tengah diantara tuntutan Dewan Komisaris di Wall Street dan gejolak dinamika yang terjadi di pabrik-pabrik yang mereka beli di seluruh penjuru Cina. Bagi Dewan Komisaris di Wall Street, manusia adalah angka – jika terlalu banyak karyawan yang tidak kompeten, solusinya hanyalah satu: pecat! Jika ada direktur atau manajer Cina yang tidak kompeten, solusinya pun sama saja : pecat dan ganti! Namun bagi Tim sebagai pelaksana di lapangan, pemecatan karyawan bisa berujung kerusuhan publik yang melibatkan pemerintah serta tentara; pemecatan manajer atau direktur lokal bisa berakibat “peperangan” berkepanjangan yang melibatkan pengadilan, pemerintah lokal, kementrian di Beijing, dan pelbagai pihak lainnya.


Terdapat perbedaan sudut pandang yang kontras antara Wall Street dan Cina. Kegagalan memahami kondisi lokal (yang diperparah dengan ketidakpedulian dewan komisaris/investor mengenai masukan dari tim pelaksana, dan tekanan yang kuat untuk menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek) berakibat kegagalan operasional, yang mana pada ujungnya, membawa kerugian secara keseluruhan dalam skala masif, mengingat besarnya investasi yang dipertaruhkan.


Terdapat 3 contoh kasus yang dapat dijadikan “studi bisnis” disini, yaitu “Pertempuran Ningshan: Naga Paling Kuat Tidak Dapat Mengalahkan Ular Setempat”, “Serangan Jingzhou: Di Langit ada Burung-burung Berkepala Sembilan, di Bumi ada Orang-orang dari Hubei”, dan “Botol pun Akhirnya Meledak: Sembilan Belas Ribu Catty Digantung dengan Sehelai Rambut”; dimana contoh kasus bisnis ini mengajarkan kita bahwa pertempuran, atau peperangan, entah itu di medan laga, ataupun di medan bisnis, pada hakikatnya mengikuti kaidah yang sama dan memerlukan strategi yang kurang lebih sama; dan pada hal ini, manajer yang tidak pernah membaca Strategi Perang Sun Tzu dan gagal dalam memahaminya, bisa mengalami kekalahan telak dan mengalami kerugian jutaan US dollar – karena dalam hal Strategi Perang Cina, mau tidak mau, suka atau tidak suka, bangsa Cina adalah “jagonya”. Diperlukan seorang manajer yang dalam peribahasa Cina dikatakan memiliki “Muka Tebal dan Hati Hitam” (pantang menyerah dan memiliki ketahanan batin yang luar biasa).


Buku ini ditulis dengan baik dari sudut pandang orang kesatu sebagai praktisi bisnis yang mengalami semua kejadian secara langsung. Mengikuti gaya penulisan novel, kita dapat dengan mudah mengikuti semua cerita tanpa harus melulu terfokus pada masalah bisnis atau pertempuran yang sedang terjadi; Tim memiliki wawasan dan pemahaman yang amat luas mengenai sejarah, bahasa, dan budaya Cina, sehingga setiap bab memiliki bingkai latar belakang yang indah dan menyeluruh, sehingga dengan membaca buku ini, seolah kita sendiri hadir disana sebagai penulis dan turut merasakan ketegangan serta pengalaman yang ia alami (utamanya bagi praktisi bisnis yang pernah bergumul dengan masalah manajerial, niscaya buku ini dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan yang ditulis dengan gaya populer).


Dari “pembukaan Cina” tahun 1992 oleh Deng Xiaoping hingga sekarang tahun 2010, telah banyak perubahan yang terjadi di Cina hanya dalam waktu 18 tahun saja – dari negara yang mewarisi sistem ekonomi terkontrol ala komunis (lengkap dengan ribuan pabrik bobrok terlantar yang kelebihan ribuan pekerja yang kadang digaji dengan beras dan sampo) menjadi “Naga Asia” yang memiliki cadangan devisa dalam US dollar terbesar di dunia. Di buku ini disebutkan sebuah contoh kejadian, dimana runtuhnya sebuah jembatan yang baru dibangun (karena korupsi) dapat membawa ke hukuman mati dan dicopotnya beberapa pejabat yang berwenang. Sungguh amat berbeda dengan negara kita, dimana pelaku korupsi malah dilindungi, disanjung dan dimenangkan oleh pengadilan. Mungkin sudah saatnya kita belajar dari Cina agar dapat bangkit kembali dan menjadi “macan Asia” alih-alih menjadi negara penyakitan yang memiliki sumberdaya luarbiasa namun sayangnya terus terpuruk dalam kesengsaraan dan kemiskinan…jika negara Cina yang mengaku Komunis dan secara resmi tidak mempercayai keberadaan Tuhan saja bisa berlaku tegas terhadap pelaku korupsi (dan menghukum mati mereka), apakah sebuah negara Pancasila yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa tidak dapat berlaku lebih baik?




“Gerbang Sang Hakim terbuka ke Selatan. Namun, hanya dengan Kasus yang Bagus dan tanpa Uang, siapa yang berani masuk?”
(nyanyian tradisional petani Cina tentang pejabat pengadilan yang korup)



Bandung, 02Mei2010, 15.20

No comments:

Post a Comment